Dreams are renewable. No matter what our age or condition, there are still untapped possibilities within us and new beauty waiting to be born.

-Dale Turner-

Tampilkan postingan dengan label KEBUDAYAAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KEBUDAYAAN. Tampilkan semua postingan

Sendratari Ramayana

Sendratari Ramayana adalah seni pertunjukan yang cantik, mengagumkan dan sulit tertandingi. Pertunjukan ini mampu menyatukan ragam kesenian Jawa berupa tari, drama dan musik dalam satu panggung dan satu momentum untuk menyuguhkan kisah Ramayana, epos legendaris karya Walmiki yang ditulis dalam bahasa Sanskerta.

Kisah Ramayana yang dibawakan pada pertunjukan ini serupa dengan yang terpahat pada Candi Prambanan. Seperti yang banyak diceritakan, cerita Ramayana yang terpahat di candi Hindu tercantik mirip dengan cerita dalam tradisi lisan di India. Jalan cerita yang panjang dan menegangkan itu dirangkum dalam empat lakon atau babak, penculikan Sinta, misi Anoman ke Alengka, kematian Kumbakarna atau Rahwana, dan pertemuan kembali Rama-Sinta.

Seluruh cerita disuguhkan dalam rangkaian gerak tari yang dibawakan oleh para penari yang rupawan dengan diiringi musik gamelan. Anda diajak untuk benar-benar larut dalam cerita dan mencermati setiap gerakan para penari untuk mengetahui jalan cerita. Tak ada dialog yang terucap dari para penari, satu-satunya penutur adalah sinden yang menggambarkan jalan cerita lewat lagu-lagu dalam bahasa Jawa dengan suaranya yang khas.


SBY: Bali Pusat Kebudayaan Dunia

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan cita-citanya untuk menjadikan Bali sebagai pusat kebudayaan dunia. Ia berharap adanya pagelaran World Cultural Forum yang diselenggarakan tiap tahun di Bali.

Hal itu diungkapkan Presiden saat memberikan sambutan dalam acara pembukaan Pekan Kesenian Bali (PKB) ke-32 di Panggung Terbuka Ardha Chandra Art Centre, Denpasar, Bali, Sabtu (12/6).

"Jika setahun sekali diselenggarakan World Economic Forum di Davos, Swiss, maka suatu saat di Bali, Indonesia, kita juga dapat menyelenggarakan World Cultural Forum," ungkap Presiden.

Untuk mewujudkan hal ini, Presiden telah melakukan pembahasan dengan para tokoh ilmu pengetahuan dan budaya, baik nasional maupun Bali. "Dalam kaitan ini saya mengajak tokoh-tokoh Bali untuk memikirkan dan merealisasikan gagasan ini," ucap Presiden.

Presiden menyampaikan, forum budaya dunia ini nantinya dapat dihadiri oleh para pakar dan pecinta seni budaya, para pakar pengetahuan dan teknologi, para ahli sejarah dan warisan dunia, bahkan para pengelola pariwisata dan dunia bisnis lainnya.

"Juga para politisi dan pemimpin dunia untuk bersama-sama membahas dan memikirkan kehidupan dunia yang lebih baik di masa depan," ungkap Presiden.

Presiden Yudhoyono hadir bersama Ibu Negara Ani Yudhoyono, Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono, Menko Polhukam Djoko Suyanto, Menko Perekonomian Hatta Radjasa serta Seskab Dipo Alam, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik, Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi, Menteri Komunikasi dan Informasi Tiffatul Sembiring, Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Malarangeng, serta Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad.

PKB dijadwalkan berlangsung selama sebulan sejak 12 Juni hingga 10 Juli 2010. Pawai budaya akan dimulai dari depan bangsal Jaya Sabha, rumah jabatan Gubernur Bali hingga Taman Budaya, tempat berlangsung aktivitas seni dan budaya.

PKB tahun ini yang mengangkat tema 'Sudamala' yang artinya mendalami Kemurnian Nurani, ujar Presiden, juga memiliki makna yang sangat dalam, yakni pemahaman dan penghayatan dalam penyucian diri, sekaligus memelihara kemuliaan nurani. "Kemuliaan nurani, sesungguhnya juga merupakan puncak dari pancaran sikap, keluhuran budi, dan budaya adiluhung," tukasnya.

PKB merupakan sebuah pesta kesenian tahunan yang tidak saja meriah, namun juga khas dan unik yang menampilkan kreativitas masyarakat Bali dalam berbudaya. Presiden juga mengingatkan pentingnya memelihara identitas budaya di era global sekarang ini. Saat ini, bangsa Indonesia dihadapkan pada persoalan-persoalan yang besar dalam konteks memelihara identitas budaya. Persoalan itu antara lain adalah intervensi budaya yang tidak selalu sejalan dengan kearifan lokal, dan juga krisis identitas.

"Tentu saja, kita tidak boleh terbawa arus global yang sering bergerak tanpa batas. Kita harus tetap menjaga identitas kebangsaan dan kebudayaan kita, kebudayaan Indonesia yang memiliki karakter dan rohnya sendiri," katanya.

Sementara itu, dalam laporannya Gubernur Bali I Made Mangku Pastika berharap adanya peran pemerintah demi terwujudnya sarana dan prasarana kesenian di Bali, sehingga menghasilkan karya yang lebih baik lagi.

Mangku Pastika memaparkan, PKB ke-32 kali ini diisi dengan 355 kegiatan yang melibatkan 15 ribu seniman. Seniman dari mancanegara seperti Amerika Serikat, Perancis, Swedia, Jepang, Singapura dan India juga ikut memeriahkan acara tersebut. (ST/OL-9)




Kebudayaan Dong Son

Kebudayaan Đông sơn adalah kebudayaan zaman perunggu yang berkembang di lembah sông hồng,vietnam. Kebudayaan ini juga berkembang di asia tenggara, termasuk di nusantara dari sekitar 1000 sm sampai 1 sm.
Kebudayaan dongson mulai berkembang di indochina pada masa peralihan dari periode mesolitik danneolitik yang kemudian periode megalitik. Pengaruh kebudayaan dongson ini juga berkembang menuju nusantara yang kemudian dikenal sebagai masa kebudayaan perunggu.

Asal mula kebudayaan ini berawal dari evolusi kebudayaan austronesia . Asal usulnya sendiri telah dicari dari barat dan bahkan ada yang berpendapat bahwa kelompok itu sampai di dongson melalui asia tengahyang tidak lain adalah bangsa yue-tche .namun pendapat ini sama halnya dengan pendapat yang mengaitkan dongsaon dengan kebudayaan halstatt yang ternyata masih diragukan kebenarannya.
Asumsi yang digunakan adalah bahwa benda-benda perunggu di yunnan dengan benda-benda yang ditemukan di dongson. Meski harus dibuktikan apakah benda-benda tersebut dibuat oleh kelompok-kelompok dari barat sehingga dari periode pembuatannya, dapat menentukan apakah benda tersebut adalah model untuk dongson atau hanyalah tiruan-tiruannya. Jika dugaan ini benar maka dapat menjelaskan penyebaran kebudayaan dongson sampai ke dataran tinggi burma.

Benda-benda arkeologi dari dongson sangat beraneka ragam, dari berbagai aliran. Terlihat dari artefak-artefak kehidupan sehari-hari ataupun peralatan bersifat ritual yang sangat rumit. Perunggu adalah bahan pilihan. Benda-benda seperti kapak dengan selongsong, ujung tombak, pisau belati, mata bajak, topangan berkaki tiga dengan bentuk yang indah. Kemudian gerabah dan jambangan rumah tangga, mata timbangan dan kepala pemintal benang, perhiasan-perhiasan termasuk gelang dari tulang dan kerang, manik-manik dari kaca dan lain-lain. Karya yang terkenal adalah nekara besar diantaranya nekara ngoc-lu yang kini disimpan di museum hanoi, serta patung-patung perunggu yang sering ditemukan di makam-makam pada tahapan terakhir masa dongson.


NERKARA NGOC LU


TOMBAK DONG SON


Kebudayaan Dongson yang berkembang di situs Dongson, ternyata juga ditemukan karya-karya budaya yang diinspirasikan oleh kebudayaan tersebut di bagian selatan*Semenanjung Indochina*(Samrong,*Battambang*di*Kamboja) hingga Semenanjung Melayu (Sungai Tembeling di Pahang dan Klang di Selangor) hingga Nusantara (Indonesia).